Senin, 05 Juli 2010
Wira usaha Sosial Melawan Senjakala Ekonomi
Wirausaha Sosial Melawan Senjakala Ekonomi
by Heru Cokro
Friday, August 29th, 2008
Rasanya kita diingatkan kembali oleh kata-kata Bung Hatta bahwa hakekat ekonomi rakyat adalah pentingnya mendidik semangat cinta kepada rakyat atas dasar usaha bersama. Dengan demikian kerja-kerja keras yang dilakukan oleh rakyat adalah manifestasi kemartabatannya sebagai manusia.
Mainstream konsep pembangunan yang meletakkan akumulasi kapital sebagai determinan penting telah menyebabkan terputusnya diskursus ekonomi berbasis kerakyatan. Alih-alih menciptakan kebijakan pro rakyat kecil, pemerintah malah mengeluarkan regulasi-regulasi yang menguntungkan industrialisasi dan konglomerasi. Hutang luar negeri menjadi keniscayaan untuk mendorong roda perekonomian dikarenakan masih rendahnya tabungan domestik. Pengelolaan negara semakin jauh dari semangat keswadayaan dan kesanggupan berdiri di atas kaki sendiri.
Bila ditelisik lebih dalam, konsep pembangunan ekonomi Industrialisasi dan modernisasi selain menciptakan berbagai kemajuan, juga melahirkan proses marginalisasi. Pekerja, petani dan nelayan menjadi profesi yang semakin terpinggirkan meskipun secara jumlah mereka mayoritas, tetapi dalam kasus penciptaan nilai tambah, kontribusi mereka sangat kecil jika dibandingkan sektor industri. Konon, para ekonom meyakini akan terjadinya transformasi struktural, yakni ketika kontribusi sektor tradisional (agraris) semakin kecil dan digantikan oleh kontribusi sektor industri yang dari waktu ke waktu semakin besar. Kenyataannya transformasi itu bersifat semu.
Pelajaran krisis moneter sepuluh tahun silam hendaknya menjadi pelajaran berharga, betapa sistem ekonomi yang dibangun harus memiliki pondasi yang kuat agar tahan banting. Industrialisasi bercorak kapitalisitik sebagai urat nadi perekonomian ternyata tidak harus menjadi domain, masih banyak model ekonomi yang mastinya digali dan lebih resisten terhadap persoalan diluar konteks makro ekonomi.
Sebagai sebuah tawaran, pengembangan basis kewirausahaan sosial bisa menjadi solusi yang kreatif. Semangat kewirausahaan sosial ini tidak mengikuti kelaziman mainstream dan terkadang mampu membongkar tradisi-tradisi lama.
Wirausahawan sosial dapat didefinisikan sebagai individu istimewa yang memiliki visi, kreativitas, dan keteguhan hati yang luar biasa -sebagaimana seorang wirausaha- dan juga dapat mengabdikan kemampuannya ini untuk memperkenalkan solusi baru pada masalah-masalah sosial. Contoh nyata semangat wirausaha sosial cum inovasi ialah bagaimana menciptakan inovasi mengatasi kenaikan harga BBM, dan sebisa mungkin, inovasinya tersebut bisa memberi keuntungan. Perekonomian berdaya inovasi selanjutnya mampu menghasilkan nilai tambah unik dan substansial bagi konsumen dan/atau masyarakatnya dan akan secara otomatis berimbas positif kepada pelaku-pelaku perekonomian itu sendiri.
Model sukses sosok wirausahawan sosial ini adalah Muhammad Yunus pendiri Grameen Bank dan peraih nobel perdamaian 2006 dari Bangladesh. Ekonom lulusan Vanderbilt University AS ini, sangat terusik dengan kemiskinan yang massif di negerinya, sementara teori-teori ekonomi yang dipelajarinya tidak bisa memecahkan persoalan kemiskinan. Akhirnya ia terjun langsung dengan memberikan pinjaman sekitar US$ 27 bagi 42 orang petani dan pengrajin. Upaya ini kemudian bertumbuh menjadi model lembaga keuangan pedesaan yang terkemuka di dunia. Model pelayanan keuangan yang dikembangkannya telah direplikasikan di 58 negara. Lembaga keuangan tersebut kemudian dikenalsebagai Grameen Bank (bank desa) yang kini melayani sekitar 7 juta orang (7.309.335 per 30 September 2007) dan sebagian besa r(97 %) adalah perempuan. Jumlah outstanding credit US$ 500,67 juta dan tingkat pengembalian 98,40 %. Karya Yunus membuktikan, bahwa orang-orang miskin, atau pengusaha mikro (economically
active poor) adalah bankable.
Contoh nyata kewirausahaan sosial yang cukup baik dari lingkup Indonesia bisa kita lihat lewat Reza Suryana. Lelaki asal Purwakarta ini telah mengembangkan teknologi yang nyaris sangat sederhana dan mudah, yaitu menciptakan energi alternatif dengan membuat briket dari sampah yang telah ia pilah. Proses pembuatannya pun sangat mudah, sampah organik di bakar di sebuah lobang sampai menjadi arang. Arang lalu ditumbuk, dihaluskan, dan disaring menjadi bubuk. Setelah diberi campuran perekat, bubuk lalu dicetak. Setelah dijemur sampai kadar airnya hilang, terbentuklah briket sampah yang siap pakai. 1 Kg briket ini berisi 30 batang dan bisa menyala hingga lima jam, untuk harga ia jual Rp. 1700. Reza tidak berusaha mematenkan hasil inovasinya ini dengan alasan ia ingin masyarakat bisa membuat briket sendiri. Bahkan ke depan Reza akan mengembangkan bahan bakar gas dari eceng gondok.
Sejatinya, jiwa wirausaha sosial yang telah dilakukan Reza hendaknya bisa menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menyerah dan mengutuk keadaan. Pemerintah dalam konteks melindungi masyarakat sudah selayaknya mendorong sosialisasi konsep kewirausahaan sosial ini kepada masyarakat umum. Masyarakat sebenarnya harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan dan terlibat untuk membantu keluar dari kemiskinan dan ketidakberdayaannya. Dengan model ekonomi seperti sekarang ini setidaknya memang secara instan bentuk fisik perkembangan ekonomi dapat dilihat, tetapi jauh dari itu, tulang-tulangnya yang rapuh tinggal menunggu pemantik untuk kemudian roboh bersama gejolak sosial ekonomi yang tidak menentu. Sesuatu yang ingin kita hindari bukan?
Heru Cokro
Ketua Departemen CSR
BPP HIPMI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar